Tags

, ,

Penginderaan jauh menurut Lillesand dan Kiefer (1987) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisa data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji. Alat yang paling dikenal dan banyak dipakai adalah menggunakan pesawat terbang dan satelit.

Sedangkan menurut Sutanto (1987), Penginderaan jauh (inderaja) adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah atau gejala yang dikaji. Alat yang dimaksud dalam batasan ini alat pengindera atau sensor. Pada umumnya sensor dipasang pada wahana (platform) yang berupa pesawat terbang, satelit, pesawat ulang alik atau wahana lainnya. Obyek yang diindera atau yang ingin diketahui berupa obek dipermukaan bumi, di dirgantara, atau di antariksa. Penginderaannya dilakukan di jarak jaujh sehingga ia disebut penginderaan jarak jauh. Begitu juga menurut Purwadi (2001), Penginderaan jauh (remote sensing) adalah ilmu dan seni untuk memperoleh imformasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisa data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji.
JARS (1993) dalam Pentury (1997) menyebutkan bahwa inderaja merupakan ilmu dan teknologi. Inderaja merupakan suatu ilmu bila digunakan untuk lingkup studi inderaja sendiri dan merupakan suatu teknik bila digunsksn sebagai penunjang untuk mempelajari bidang ilmu lain (Pentury, 1997). Komponen dasar dalam sistem inderaja adalah radiasi elektromagnetik (REM), atmosfer, sensor dan obyek. Atmosfer merupakan media dimana REM yang mengenai obyek ditransmisikan hingga terekam oleh sensor, jika radiasi elektromagnetik mengenai suatu obyek maka terdapat tiga kemungkinan pokok interaksi antara obyek dengan REM. Sebagian dari REM akan ditransmisikan, diserap dan sebagian lagi akan dipantulkan kembali. Energi yang dipantulkan, diserap dan ditransmisikan akan berbeda untuk obyek yang berbeda, tergantung pada jenis materi dan kondisinya. Perbedaan ini memungkinkan kita untuk membedakan obyek yang berbeda pada suatu citra. (Lillesand dan Kiefer, 1979)

Penginderaan jauh sering dibedakan atas beberapa macam. Lillesand dan Kiefer (1979) membedakannya berdasarkan cara pengumpulan data cara analisisnya. Berdasarkan cara pengumpulan datanya, system penginderaan jauh dapat dibedakan atas tenaga dan wahana yang digunakan dalam penginderaan. Berdasarkan tenaga yang digunakan, system tersebut dibedakan atas yang menggunakan tenaga pantulan dan yang menggunakan tenaga pancaran. Sedang berdasarkan wahananya maka system penginderaan jauh dibedakan atas system penginderaan dari dirgantara (airborne system) dan dari antariksa (space borne system). Berdasarkan atas analisis datanya maka penginderaan jauh dibedakan atas cara interpretasinya, yaitu interpretasi secara visual dan interpretasi secara numeric. Interpretasi secara visual dilakukan dengan menggunakan hasil penginderaan berupa data piktoral atau citra, sedang interpretasi secara numeric dilakukan dengan menggunakan hasil penginderaan yang berupa data digital yang direkam pada pita magnetic. Hasil interpretasi atau informasi yang berasal dari kedua cara tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk tabel, peta dan diskripsi. Ketiga hasil ini merupakan informasi yang siap dipakai oleh para penggunanya.

Pengamatan tanpa kontak langsung tersebut dilaksanakan dengan memanfaatkan radiasi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan atau dipantulkan oleh objek dipermukaan bumi. Data yang diperoleh bersifat multispektoral (dari berbagai daerah spectrum panjang gelombang), multilevel (dari berbagai ketinggian) dan multitemporal (pengulangan secara periodik dan aplikasinya bersifat multidisipliner karana data yang diperoleh dapat digunakan untuk berbagai kegiatan disiplin ilmu dan teknologi (Hasyim, 1995). Citra satelit penginderaan jauh dapat dibedakan atas kegunaan utamanya, yaitu satelit sumberdaya bumi, satelit sumber daya laut, satelit cuaca dan satelit penginderaan benda antariksa. Karena satalit penginderaan antariksa juga merekam bumi dan kita berkepentingan dengan datanya, maka satelit penginderaan antariksa dikelompokkan satelir sumber daya bumi (Sutanto, 1987).

Satelit sumber daya bumi dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu (1) satelit berawak dan (2) satelit tidak berawak. Satelit berawak membawa sensor fotografik yang keluarannya berupa foto satelit, sedangkan satelit tidak berawak membawa sensor non fotografik yang keluarannya berupa citra satelit maupun data digital. (Curran, 1985 dalam Sutanto, 1987). Satelit berawak pada umumnya mengorbit dengan ketinggian lebih rendah dari ketinggian orbit satelit tidak berawak. Umur orbitnya juga lebih pendek dari umur orbit satelit tidak berawak( Janza , 1975 dalam Sutanto, 1987).