Dikala jarak yang terpisah jauh,

dikala keinginan untuk selalu menyapa dan bercengkrama tidak terasa,

dikala tuntutan perasaan yang silih berganti terus memaksa,

dikala itu mulai lah geliat keraguan muncul.

mampukah aku bertahan?

mampukah aku menjadi seperti yang diharapkan?

entahlah, tapi yang pasti suasana itu telah berlalu setahun yang lalu, menyisakan sedikit sesal dan keyakinan ynag entah apa yang sebenarnya telah ku putuskan. melalui sebuah pesan singkat, kusampaikan kata perpisahan itu, dengan berat hati dan penuh kesadaran akan kemampuan dan kelemahan diri. kulepas dirimu, untuk kebahagiaanmu meskipun tak mungkin bisa kau mengerti dan terima.

Dikala ada penyesalan mulai menimpa,

dikala kata maaf tersampaikan,

dikala jawaban tak pernah lagi terucap,

dikala itu barulah tersadar, kata telah terucap, ludah telah terbuang tak mungkin bisa terambil kembali. waktu seakan berlalu cepat, luka tak sempat terobati masih terasa perih penyesalan yang tiada henti. tapi entah kenapa engkau seolah tak ada luka dan dengan segera menemukan pembalut luka, yang dengan segera kau tutup kau peluk, kau jaga seakan tak ingin pernah mengingat bahwa engkaulah pembuat luka.

‘kita akan benar-benar merasa bahagia, jikalau orang yang kita cintai itu bahagia’